Pemerintah menargetkan revitalisasi tambak udang 82.870 hektar yang tersebar pada 22 kabupaten di pantai utara Jawa tahun 2012. Revitalisasi tambak merupakan bagian dari industrialisasi perikanan budidaya yang ditargetkan menghasilkan 102.000 ton udang.

Demikian dikemukakan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Subiakto saat ikut panen budidaya udang di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin (14/5). Tahun 2012, revitalisasi tambak pada 22 kabupaten di pantai utara Jawa ditargetkan menghasilkan udang 102.000 ton atau senilai Rp 5,89 triliun. Hingga tahun 2014, revitalisasi tambak akan dikembangkan pada semua sentra produksi di Indonesia seluas 135.213 hektar dengan produksi 210.000 ton udang. Slamet menambahkan, upaya revitalisasi tambak dilakukan dengan peningkatan sarana dan prasarana budidaya, seperti saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier. Selain itu, tambak udang juga diperdalam 1,5-1,7 meter serta akses permodalan dikembangkan dengan penjamin dari asuransi Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo).

Teknologi Plastik

Ia menambahkan, metode budidaya akan dibenahi dengan penggunaan benur bebas penyakit serta penggunaan teknologi plastik mulsa. Budidaya udang vaname dengan metode plastik mulsa mulai dikembangkan di sejumlah tambak rakyat di pantai utara Jawa. ”Metode plastik adalah merevitalisasi tambak udang intensif dengan menggunakan plastik mulsa,” kata Slamet. Menurut Slamet, penggunaan plastik mulsa mendorong produktivitas dan efisiensi biaya produksi. Metode plastik itu menekan serangan bakteri karena mendorong terbentuknya bioflok untuk menstabilkan kualitas air pada tambak. ”Plastik mulsa akan digunakan di pantai utara Jawa sebagai model percontohan. Teknologi plastik ini terbukti mengurangi kegagalan produksi,” ujarnya. Stimulus penggunaan plastik mulsa di Jawa Barat dan Banten ditargetkan untuk 5.000 hektar tahun ini, yakni pada tambak semi-intensif dan intensif. Sekitar 590 hektar di antaranya di Subang.

Salah satu budidaya udang vaname yang berhasil dengan metode plastik mulsa adalah tambak milik Mimin Hermawan di Desa Patimban. Dengan metode plastik mulsa, tingkat hidup udang mencapai 85 persen. Mimin mengemukakan, penggunaan plastik mulsa mampu menekan serangan bakteri dan harganya relatif murah. Harga plastik mulsa Rp 1.500 per meter. Jauh lebih murah ketimbang terpal jenis HDPE (high density polyethylene) yang harganya minimal Rp. 13.000 per meter.

Meski demikian, plastik mulsa diganti hampir setiap siklus panen. Dalam satu tahun, siklus panen mencapai 2-3 kali. Mimin memiliki 14 tambak seluas 8 hektar dan saat ini mampu menghasilkan udang vaname ukuran 70 ekor per kilogram (size 70) dalam waktu 65 hari. Produksi udang ditingkatkan dari yang semula dengan sistem tradisional sebesar 100-300 kg per hektar menjadi 40 ton per hektar untuk setiap siklus dengan sistem intensif. Ia menambahkan,harga jual udang vaname size 70 saat ini berkisar Rp 40.000 per kg, sedangkan ongkos produksi Rp 35.000 per kg.